Sudahkah anda tilawah da tadabbur Al Qur'an hari ini ?

Tafsir Surat Yusuf Ayat 1 s/d 14

Sheikh Maher al-Muaiqly - Surat Yusuf
Powered by mp3skull.com

Penulis : Syaikh Abdurrohman bin Nashir bin as Sa’diy
Nama surat : Yusuf bin Ya’qub 
Status : Makkiyyah


Ayat : 1-3
1.  Alif, laam, raa[1]. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).
2.  Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.
3.  Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran Ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum Mengetahui.
[1]  ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah Karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan Hanya buatan Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.
TAFSIR :
Allah Ta’ala mengabarkan bahwa ayat-ayat Al Quran adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata] yakni yang jelas dan terang, baik lafadz maupun maknanya. Di antara bukti jelas dan terangnya ayat-ayat Al Quran adalah : Allah Ta’ala menurunkan Al Quran dengan lisan/ bahasa arab, bahasa yang paling mulia dan paling jelas, yang menjelaskan segala sesuatu yang bermanfaat yang dibutuhkan oleh manusia. Kesemuanya itu  [agar kamu memahaminya] yakni supaya kalian memahami batasan-batasannya, pokok-pokok dan cabang-cabangnya serta perintah dan larangannya. Apabila kalian telah memahaminya dengan keyakinan, dan hati kalian telah mengetahuinya, niscaya akan lahir amal-amal shalih disertai ketundukan kepadaNya. Sehingga bertambahlah kepahaman pada akal kalian disebabkan diulang-ulangnya makna-makna yang mulia lagi tinggi itu. Keadaan kalian pun akan senantiasa berpindah dari satu kondisi kepada kondisi yang lebih baik dan lebih sempurna.
 [Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik] Demikian karena kebenaran kisahnya, kelembutan perumpamaannya serta keindahan maknanya.  [dengan mewahyukan Al Quran Ini kepadamu] yakni dengan segala hal yang tercakup di dalam Al Quran yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam), dengan Al Quran Kami lebihkan kedudukanmu di atas para Nabi yang lainnya. Semua itu adalah semata karunia dan kebaikan dari Allah Ta’ala.
 [dan Sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum Mengetahui] yakni sebelumnya engkau (Muhammad) tidak mengetahui apa itu al Kitab (Al Quran) dan apa itu iman sebelum Allah Ta’ala mewahyukan kepadamu. , tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.
Ayat : 4
4.  (ingatlah), ketika Yusuf Berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku[2], Sesungguhnya Aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”
[2]  bapak Yusuf  ‘alaihis salam  ialah Ya’qub putera Ishak putera Ibrahim ‘alaihimus shalatu was salam.
TAFSIR :
Setelah Allah Ta’ala memuji kisah-kisah yang terkandung di dalam Al Quran, bahwasannya di dalamnya terkandung kisah-kisah terbaik di mana tidak dapat ditemui satu kisah pun yang semisal dengan apa yang dimiliki Al Quran, maka kemudian Allah menceritakan kisah Nabi Yusuf beserta bapak dan saudara-saudaranya, sebuah kisah yang bagus lagi menakjubkan.
Ketahuilah, Allah Ta’ala telah menyebutkan bahwa apa yang Dia kisahkan kepada RasulNya shallallohu ‘alaihi wa sallam adalah kisah yang terbaik di dalam kitab ini (Al Quran), kemudian Dia menceritakan dan meluaskan kisahnya, dan menyebutkan apa saja yang terjadi di dalamnya. Maka dapat diketahui bahwa kisah tersebut adalah kisah yang lengkap, sempurna serta terbaik. Barangsiapa yang berkeinginan untuk menyempurnakan atau membaguskan kisah tersebut dengan kisah-kisah israiliyyat yang tidak diketahui sanad (mata rantai pembawa kisah) dan pembawa beritanya di mana kebanyakannya adalah kisah dusta, maka dia memperbaiki atas Allah dan menyempurnakan sesuatu yang dia anggap kurang. Maka cukuplah bagi Anda bahwa hal tersebut hanyalah berujung kepada kejelekan. Sesungguhnya semua yang terkandung di dalam surat (Yusuf) ini telah memenuhi banyak kitab tafsir, berupa kedustaan dan hal-hal yang buruk yang dalam banyak hal berlawanan dengan apa yang dikisahkan oleh Allah Ta’ala.
Maka kewajiban setiap hamba adalah memahami kisah-kisah dari Allah Ta’ala serta meninggalkan selainnya yang tidak pernah dinukil dari Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam.
Firman Allah :  [(ingatlah), ketika Yusuf Berkata kepada ayahnya] yaitu Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim al Khalil (kekasih Allah) ‘alaihimus shalatu was salam.
 [Wahai ayahku, Sesungguhnya Aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku] maka mimpi Yusuf ‘alaihis salam ini adalah sebuah permulaan dari apa yang akan dicapai olehnya, yaitu kedudukan yang tinggi di dunia dan di akhirat.
Demikianlah apabila Allah menghendaki sesuatu yang agung maka Dia awali dengan sebuah mukaddimah/ pendahuluan yang berfungsi sebagai persiapan dan kemudahan urusan, persiapan bagi hambaNya untuk menghadapai berbagai kesulitan, sebagai bentuk kelembutan dan kebaikan terhadap hambaNya.
Maka Allah memulakan dengan Ya’qub, bahwa matahari adalah ibunda (Yusuf), rembulan adalah ayahandanya, dan bintang-bintang adalah saudara-saudaranya. Dan bahwa dengannya keadaan akan berubah di mana mereka akan tunduk merendahkan diri kepadanya, dan sujud kepadanya sebagai tanda pemuliaan dan pengagungan. Dan Bahwasannya semua itu tidak terjadi melainkan dengan sebab pendahuluan berupa pilihan Allah Ta’ala kepada Yusuf serta kesempurnaan nikmat dariNya berupa ilmu, amal dan kedudukan di muka bumi. Nikmat ini meliputi seluruh keluarga Ya’qub ‘alaihis salam yang telah sujud (menghormati) mengikuti Yusuf ‘alaihis salam.

5.  Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”
6.  Dan Demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia Telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu[3] sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
[3]  dimaksud bapak disini kakek dan ayah dari kakek.
TAFSIR :
Demikianlah Allah memilih engkau (wahai Yusuf) dengan anugerahNya berupa sifat-sifat yang agung dan perangai yang baik. Dan Dia mengajarkan kepadamu takwil “ahadits” yaitu takwil mimpi dan penjelasan dari cerita-cerita yang benar sebagaimana kitab-kitab samawi (langit) dan sejenisnya. Dia sempurnakan nikmatNya ke atasmu di dunia dan akhirat yaitu dengan kebaikan di dunia dan di akhirat. Sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelumnya (yaitu) Ibrahim dan Ishak di mana Allah menganugerahkan nikmatNya yang agung serta luas kepada keduanya, baik nikmat agama maupun nikmat duniawi.
 [sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana] maksudnya ilmuNya meliputi segala sesuatu, termasuk apa yang disembunyikan oleh seorang hamba berupa kebaikan dan selainnya. Maka Allah memberikan kepada setiap sesuatu apa-apa yang sesuai dengan hikmahnya dan memujinya. Sesungguhnya Dia Maha Bijaksana (yang) meletakkan dan menurunkan sesuatu sesuai dengan tempatnya.
Ketika ta’bir mimpi itu telah jelas sempurna bagi Yusuf, maka ayahnya berkata,
 [“Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu”] yaitu disebabkan kedengkian mereka kepadamu yang mana engkau akan menjadi pemimpin yang mulia bagi mereka.
 [Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia]. Setan akan senantiasa menjadi musuh, siang dan malam, tersembunyi maupun terang-terangan. Maka seorang hamba lebih utama (menghindari) sebab-sebab yang menjadikannya dikalahkan oleh setan. Yusuf pun mematuhi perintah ayahandanya dan tidak memberitahukan (mimpinya) kepada saudara-saudaranya, bahkan dia menyembunyikannya dari mereka.


7.  Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.
8.  (yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.
9.  Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik[4].”
[4]  menjadi orang baik-baik yaitu, mereka setelah membunuh Yusuf ‘alaihis salam. bertaubat kepada Allah serta mengerjakan amal-amal saleh.
TAFSIR :
Allah Ta’ala berfirman [Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya] maksudnya ayaat adalah pelajaran dan petunjuk atas berbagai tuntutan yang baik.
yaitu bagi setiap orang yang bertanya tentangnya, baik secara lisanul hal ( gerak-gerik atau perbuatan) maupun secara lisanul maqol (ucapan). Sesungguhnya orang-orang yang mau bertanya adalah orang-orang yang mengambil manfaat dari tanda-tanda dan pelajaran. Adapun orang-orang yang berpaling maka mereka tidaklah mengambil manfaat dari ayat, tidak pula dari kisah-kisah dan penjelasan-penjelasan.
 [ketika mereka berkata] di antara mereka  [sesungguhnya Yusuf dan saudaranya] yaitu Bunyamin, saudara kandungnya. Kalau bukan dia tentu semua (mereka) adalah saudara (bagi Yusuf).  [lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan] maksudnya satu jama’ah/ kelompok. Maka bagaimana bisa (ayah kita) mengutamakan keduanya di atas kita dalam hal kecintaan dan kasih sayang.
 [Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata] maksudnya berada di dalam kesalahan yang jelas, yang mana beliau lebih mengutamakan keduanya dibandingkan kepada kita tanpa ada sebab yang kita ketahui dan tidak pula ada sesuatu yang dapat kita saksikan.
 [Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah] maksudnya buanglah Yusuf dari penglihatan ayahnya ke suatu tempat yang jauh yang tidak mungkin bisa diketahui oleh beliau. Apabila kalian telah melakukan salah satu dari dua hal ini (yaitu membunuh atau membuang, -pent) [maka perhatian ayah akan tertumpah kepada kalian saja] yaitu mencurahkan segenap perhatiannya kepada kalian dan melimpahkan kecintaan serta kasih sayangnya kepada kalian. Sesungguhnya hati beliau (saat ini) telah dipenuhi oleh (kecintaan kepada) Yusuf yang mengakibatkan lalai kepada kalian.
 [dan sesudah itu hendaklah kamu] maksudnya sesudah melakukan perbuatan tersebut  [menjadi orang-orang yang baik] yakni kalian bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan atas dosa-dosa kalian. Maka dengan itu mereka telah mendahulukan keinginan untuk bertaubat sebelum terlaksananya dosa, dikarenakan mereka meremehkan perbuatan dosa tersebut, menghilangkan keburukannya dan kesungguhan sebagian mereka kepada sebagian yang lain.

10.  Seorang diantara mereka berkata: “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat.”

TAFSIR :
[Seorang di antara mereka berkata] yaitu salah seorang saudara Yusuf yang mereka berkeinginan untuk membunuh atau mengasingkan Yusuf
[Janganlah kalian membunuh Yusuf] sungguh membunuhnya adalah sebesar-besar dan seburuk-buruk dosa. Sedangkan tujuan masih bisa dicapai dengan menjauhkan Yusuf dari bapaknya tanpa membunuhnya. Akan tetapi kalian dapat mengasingkannya dengan cara melemparkannya [ke dasar sumur] dan kalian mengancamnya supaya dia tidak menceritakan perihal kalian bahkan dia adalah seorang hamba sahaya yang melarikan diri dari kalian, supaya [dia dipungut oleh beberapa orang musafir] yang mana mereka menuju tempat yang jauh, sehingga mereka memungutnya.
(Saudara Yusuf) yang berbicara ini adalah pendapat yang paling baik mengenai saudara mereka Yusuf,  dan orang yang paling baik dan paling bertakwa dalam permasalahan ini. Sesungguhnya sebagian perbuatan buruk lebih ringan daripada sebagian yang lainnya, dan bahaya yang ringan dapat menolak bahaya yang lebih berat.
Setelah mereka bersepakat atas pendapat tersebut…



11.  Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya.
12.  Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan Sesungguhnya kami pasti menjaganya.”
13.  Berkata Ya’qub: “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan Aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah dari padanya.”
14.  Mereka berkata: “Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), Sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi[5].”

[5]  Maksudnya: menjadi orang-orang pengecut yang hidupnya tidak ada artinya.

Saudara-saudara Yusuf berkata, menyampaikan maksud mereka kepada bapak mereka [Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya] yaitu : ada apa gerangan engkau mengkhawatirkan Yusuf ke atas kami, tanpa ada sebab dan alasan?
[padahal Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya] Kami mengasihinya, menyayanginya sebagaimana menyayangi diri kami sendiri. Kisah di atas menunjukkan bahwa Ya’qub ‘alaihis salam tidak membiarkan Yusuf pergi bersama saudara-saudaranya ke sebuah gurun dan semisalnya.
Selepas mereka menaburkan tuduhan supaya Yusuf diperbolehkan ikut dengan mereka, kemudian mereka memberitahukan kebaikan dan keramahan Yusuf yang disukai oleh bapaknya,  dengan tujuan supaya Yusuf diperbolehkan ikut pergi bersama mereka. Mereka berkata [Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main] [dan Sesungguhnya kami pasti menjaganya] yakni menjaganya dari marabahaya.
Lantas Ya’qub menjawab [Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku] yaitu kepergian kalian semata bersama Yusuf membuatku bersedih dan terasa berat bagiku, aku tidak kuasa berpisah dengannya meskipun sebentar saja. Hal tersebut adalah salah satu penghalang diperbolehkannya Yusuf pergi. Penghalang kedua adalah [Aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah dari padanya] yaitu di saat kalian lalai, sedangkan ia (Yusuf) masih kecil dan tidak bisa membela diri dari serigala.
[Mereka berkata: "Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat)] yaitu segolongan yang sangat ingin untuk menjaga.
[Sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi] yaitu tidak ada kebaikan pada kami dan tidak ada manfaat yang bisa diharapkan dari kami, apabila serigala bisa memakan Yusuf dan mengalahkan kami.
Setelah mereka menjelaskan panjang lebar alasan-alasan yang memungkinkan Yusuf ikut pergi, dan tidak adanya penghalang, maka kemudian Ya’qub memberikan izin kepada Yusuf dikarenakan rasa sayangnya.
(Sumber: ngajiquranWP.com)

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More